Jasa Ekspedisi Samarinda Bangli

Jasa ekspedisi samarinda bangli merupakan bisnis yang memiliki pengaruh signifikan dalam upaya membangun ekonomi dan bisnis di suatu wilayah. Hal ini ditunjang dengan karakteristik dua wilayah yang memiliki sector pariwisata dan potensi hasil bumi yang terus menunjukkan angka positive.

Jasa ekspedisi samarinda bangli yang dikelola oleh NAKULLE telah menjadi solusi bagi masyarakat setempat di tengah pandemic covid 19 yang melanda Indonesia sejak awal 2019 silam. Tidak dapat dipungkiri bahwa kejadian ini sangat berpengaruh besar di setiap sendi-sendi kehidupan bermasyarakat. Untuk itu, NAKULLE berkomitmen untuk membawa angin segar agar perputaran ekonomi di dua daerah ini bisa terus berkembang. 

Jasa ekspedisi samarinda bangli milik NAKULLE memiliki tim professional dan berpengalaman yang selalu menggunakan prinsip RACOF (Ramah dan sopan, Aman, Cepat, Ongkos yang adil, dan Fast Respon) dalam melayani setiap customer di seluruh Indonesia, termasuk kota Samarinda dan Kabupaten Bangli.

Sebagai tambahan informasi, dalam artikel ini kita juga akan membahas bagaimana karakteristik dua wilayah yang berhasil dihubungkan oleh NAKULLE sebagai penyedia jasa ekspedisi logistic dan kargo terbaik di Indonesia, yakni Kota Samarinda dan Bangli.

Samarinda adalah ibu kota provinsi Kalimantan Timur dan samarinda merupakan kota dengan penduduk terbesar di seluruh Pulau Kalimantan dengan jumlah penduduk sekitar 812,597 jiwa.

Kota Samarinda dihuni berbagai macam suku bangsa. Suku bangsa terbesar yaitu suku Jawa (36,70%), disusul Bugis (24,14%), Banjar (14,43%), Kutai (6,26%) dan Toraja (2,13%). Kemudian ada juga suku bangsa lainnya, yaitu Dayak, Minahasa, Tionghoa, Mandar, Buton, Minangkabau, Makassar, Madura, Batak, Sunda dan lain-lain.

Kota Samarinda memiliki 10 kecamatan dan 59 kelurahan dengan kode pos 75111 hingga 75253. Kecamatan Samarinda Utara merupakan kecamatan dengan luas wilayah terbesar dengan luas wilayah lebih dari 31 persen luas Kota Samarinda, sedangkan Kecamatan Samarinda Kota merupakan kecamatan dengan luas wilayah terkecil.

Nah, setelah mendapatkan informasi terkait Kota Samarinda, sekarang kita akan membahas kabupate Bangli.

Kabupaten Bangli adalah sebuah kabupaten yang terletak di provinsi BaliIndonesia. Kabupaten Bangli adalah satu-satunya kabupaten di Bali yang tidak memiliki wilayah laut (terkurung daratan). Bangli berbatasan dengan Kabupatan Buleleng di sebelah Utara, kabupaten Klungkung dan Karangasem di Timur, dan kabupaten klungkung, Gianyar, di Selatan, serta Badung dan Gianyar di sebelah Barat. 

Kabupaten Bangli terdiri dari 4 kecamatan ( Bangli, Kintamani, Susut, Tembuku ), 4 kelurahan, dan 68 desa. Pada tahun 2017, jumlah penduduknya mencapai 264.945 jiwa dengan luas wilayah 490,71 km² dan sebaran penduduk 540 jiwa/km².

Bila dilihat dari penggunaan tanahnya, dari luas wilayah yang ada sekita 2.890 Ha merupakan lahan sawah, 29.087 Ha merupakan lahan kering, 9,341 Ha merupakan hutan Negara, 7.719 Ha merupakan tanah perkebunan dan sisanya seluas 3.044 Ha merupakan lahan lain-lain (jalan, sungai dan lain-lain).

Daerah ini memiliki motto “Bhukti Mukti Bhakti” yang Mengandung arti sebagai suatu pengabdian berbakti kepada Tuhan dan Negara untuk mewujudkan cita-cita luhur yaitu masyarakat adil dan makmur. Kabupaten Bangli beriklim tropis dengan suhu udara relatif rendah berkisar antara 15° sampai 30°C dengan suhu rata-rata tahunan adalah 24.0 °C, sehingga kabupaten ini juga mendapat julukan sebagai “Kabupaten Dingin” di Bali.

Berdasarkan sejarah dalam Prasasti Pura Kehen yang tersimpan di Pura Kehen, diceritakan bahwa pada abad ke-11 di Desa Bangli berkembang wabah penyakit yang disebut kegeringan yang menyebabkan banyak penduduk meninggal. Penduduk lainnya yang masih hidup dan sehat menjadi ketakutan setengah mati, sehinnga mereka berbondong-bondong meninggalkan desa guna menghindari wabah tersebut. Akibatnya Desa Bangli menjadi kosong karena tidak ada seorangpun yang berani tinggal di sana.

Raja Ida Bhatara Guru Sri Adikunti Ketana yang bertahta ketika itu berusaha mengatasi wabah tersebut. Setelah keadaan pulih kembali, sang raja yang bertahta pada tahun Caka 1126, tanggal 10 Tahun Paro Terang, Hari Pasaran Maula, Kliwon, Chandra (senin), Wuku Klurut tepatnya pada tanggal 10 Mei 1204, memerintahkan kepada putra-putrinya yang bernama Dhana Dewi Ketu agar mengajak penduduk kembali ke Desa Bangli guna bersama-sama membangun dan memperbaiki rumahnya masing-masing sekaligus menyelenggarakan upacara/yadnya pada bulan Kasa, Karo, Katiga, Kapat, Kalima, Kalima, Kanem, Kapitu, Kaulu, Kasanga, Kadasa, Yjahstha dan Sadha. Disamping itu, raja juga memerintahkan kepada seluruh penduduk agar menambah keturunan di wilayah Pura Loka Serana di Desa Bangli dan mengijinkan membabat hutan untuk membuat sawah dan saluran air. Untuk itu pada setiap upacara besar penduduk yang ada di Desa Bangli harus melakukan persembahyangan.

Pada saat itu juga, tanggal 10 Mei 1204, Raja Idha Bhatara Guru Sri Adikunti Katana mengucapkan pemastu yaitu:

“Barang siapa yang tidak tunduk dan melanggar perintah, semoga orang itu disambar petir tanpa hujan atau mendadak jatuh dari titian tanpa sebab, mata buta tanpa catok, setelah mati arwahnya disiksa oleh Yamabala, dilempar dari langit turun jatuh ke dalam api neraka”.

Bertitik tolak dari titah-titah Sang Raja yang dikeluarkan pada tanggal 10 Mei 1204, maka pada tanggal tersebut ditetapkan sebagai hari lahirnya Kota Bangli.

Artikel ini resmi ditulis oleh tim marketing Nakulle.id

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *